‎(Lagi Tentang) Calistung pada Anak Usia Dini

Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’, ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas. Mental Hectic adalah kekacauan mental

Bincang Edukasi, mengajak berbincang tentang CaLisTung (membaca, menulis dan berhitung) bagi anak-anak yang baru masuk di sekolah dasar. Beberapa sekolah dasar atau yang sederajat, memberlakukan tes kemampuan membaca, menulis dan berhitung bagi calon siswanya.

Akhirnya, ini mendorong Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Formal, menerapkan pembelajaran yang menghasilkan siswa yang bisa membaca, menulis dan berhitung. Sebuah efek domino yang terus berlanjut pada lingkungan keluarga, dimana balita dituntut agar mengikuti kegiatan-kegiatan yang mengarahkannya pada hal tersebut. Beberapa orangtua lalu “memfasilitasi” anak untuk kursus beragam jenis kursus. Bisa jadi sang anak menyukainya, tapi bisa jadi juga tidak terlalu menyenangkan bagi mereka.

Padahal, pasal 66 PP No. 17/2010 menuliskan:

(2) Program pembelajaran TK, RA, dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain yang dapat dikelompokan menjadi:
a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan akhlak mulia;
b. bermain dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian;
c. bermain dalam rangka pembelajaran orientasi dan pengenalan pengetahuan dan teknologi;
d. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; dan
e. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
(3) Semua permainan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dirancang dan diselenggarakan:
a. secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian;
b. sesuai dengan tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak serta kebutuhan dan kepentingan terbaik anak;
c. dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing anak;
d. dengan mengintegrasikan kebutuhan anak terhadap kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial; dan
e. dengan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak.

Peraturan tersebut secara tegas memandatkan agar PAUD tidak memberikan beban kepada anak. Menjadikan lingkungan belajar, sebagai wadah bermain bagi anak, adalah sebuah model kelas belajar bagi anak-anak. Tidak diperlukan ada sebuah proses evaluasi yang memastikan kemampuan membaca, menulis dan berhitung bagi anak pada tingkat PAUD.

Dan ketika memasuki Sekolah Dasar ataupun yang sederajat, Pasal 69 (5) PP No. 17/2010 tersebut menyebutkan “penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain“. Sehingga ada kewajiban bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dibantu Dinas Pendidikan Provinsi untuk melakukan pemantauan terhadap penyelenggara pendidikan agar tidak memberlakukan model penerimaan yang menjadi beban bagi anak.

Lalu, mengapa masih terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya? Karena saat ini terdapat “ambisi” dari orangtua, yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, agar menjadikan anak memiliki kemampuan yang diinginkan orangtua. Banyak anak-anak yang berada dalam kendali orangtua, tanpa pernah berani untuk mengungkapkan keinginan dan harapannya. Sementara, negara masih abai untuk memastikan kesejahteraan lembaga pendidikan formal.

Walaupun tak juga bisa dibenarkan bila lembaga pendidikan anak usia dini non-pemerintah ataupun non-formal untuk memberlakukan kewajiban calistung bagi anak. Pemerintah harus membenarkan proses yang sudah salah. Namun bila pemerintah sudah tidak mampu melakukan perbaikan, maka wargalah yang harus bergerak untuk memastikan proses pembelajaran anak usia dini berjalan dengan semestinya.

Melahirkan generasi cerdas bukanlah dengan memaksakan kehendak orangtua pada anak. Memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi pada anak menjadi awal sebuah perbaikan bagi generasi. Menyediakan alam dan lingkungan hidup yang lebih sehat, akan menjadi media belajar yang baik bagi mereka. Bermain adalah dunia anak. Berikanlah ruang bermain yang layak bagi mereka.

Ada satu cara untuk membuat perubahan, adalah dengan memastikan perubahan itu dilakukan. Bawalah peraturan pemerintah tentang pendidikan anak usia dini, pada sekolah-sekolah ataupun penyelenggara pendidikan dasar yang memaksakan tes uji kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Pastikan juga Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menerima laporan perilaku lembaga penyelenggara pendidikan tersebut. Bila tidak juga ada perubahan, mari memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar di lingkungan keluarga dan kampungnya, tak perlu di lembaga pendidikan formal.

Bahan Bacaan:

PP No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan – http://www.dikti.go.id/files/atur/PP17-2010Lengkap.pdf

PP No. 66 tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (PDF) – Penjelasan http://www.ranking-ptai.info/regulasi/penjelasan_pp_66_10.pdf

Permendiknas Nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini – http://www.paudni.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2012/08/permen_58_2009-ttg-standar-PAUD.pdf

Anak-Anak Karbitan – http://fnoor.wordpress.com/2008/04/18/anak-anak-karbitan-2/

Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena ‘Mental Hectic’ –http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/07/18/125274-balita-diajarkan-calistung-saat-sd-potensi-terkena-mental-hectic-

Montessori education – wiki en – id http://en.wikipedia.org/wiki/Montessori_education

Diskusi CaLisTung dan Bahasa Asing di PAUD/TK/SD oleh @bincangedukasi – http://chirpstory.com/li/19789

sumber: http://www.bincangedukasi.com/calistung-pada-anak-usia-dini.html

 

Sumber : Harry Santosa di  facebook Millenial Learning Center

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s