Kaya di Indonesia

Beberapa dekade terakhir ini, nasib tenaga kerja Indonesia di luar negeri, terutama yang ilegal dan tak punya keterampilan, mendapat sorotan pelbagai pihak. Bagi yang bersimpati, mereka selalu menawarkan jalan keluar yang elegan.

Pengembang Ciputra dengan program entrepreneurship-nya, sekadar menyebut sebuah contoh, membentuk tim khusus yang mendatangi TKI di luar negeri. Ada yang datang ke Singapura, ada pula yang bertolak ke Malaysia dan Hongkong, China. Tujuannya mengajak para TKI tidak berhenti hanya menjadi tenaga kerja di beberapa negara itu, tetapi pada momentum yang tepat membangun usaha sendiri.

“Saya ingin kelak mereka menjadi majikan dengan sekian staf. Maka, sekarang kami ajarkan  ilmu berbisnis. Kami getarkan jiwa entrepreneur-nya,” ujar Ciputra di Jakarta, Sabtu (23/3). Ia kemudian memutar film proses belajar-mengajar TKI di Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Bank Rakyat Indonesia datang dengan konsep yang berdampak jauh ke depan. Pimpinan BRI mengajak TKI untuk tidak sekadar bekerja, tetapi juga membangun masa depan jauh lebih cerah. Salah satu direktur BRI Sulaeman Arif Ariantoro menyatakan, BRI berkomitmen memberikan kontribusi pada masa depan para TKI, maka dibuat program yang ujungnya memberikan napas lega kepada TKI kelak.

Intinya, ujar Sulaeman, BRI menggamit mereka secara terencana. Pertama, menyiapkan TKI itu di Indonesia. Mereka dilatih dalam program pelatihan dan pencerdasan: mulai dari keterampilan untuk pekerjaan yang akan mereka kerjakan di negara tujuan. Mereka dilatih tata krama, bahasa Inggris, dan pengetahuan praktis tentang manajemen keuangan. Lama pelatihan bervariasi, ada yang sebulan, ada pula yang lebih.

Kedua, BRI membantu proses mereka bekerja. Misalnya, begitu mendapat calling visa dari negara tujuan, pekerjaan yang jelas, dan majikan yang jelas pula, BRI memberikan pinjaman untuk di antaranya dipakai untuk pelatihan, perjalanan ke luar negeri, dan beberapa kebutuhan TKI lainnya.

TKI yang bersangkutan membuka rekening di BRI di kampung halamannya. Rekening untuk TKI juga dibuka di mitra BRI di Korea Selatan, yakni Industrial Bank of Korea (IBK), bank UMKM. Pada titik ini, TKI yang bersangkutan sudah mendapatkan penjelasan bahwa ia akan mendapat sekian rupiah dari bakal majikannya di Korea Selatan.

Tujuan program ini, ujar Sulaeman, agar TKI tidak konsumtif, uangnya mengalir ke Indonesia, dan tabungannya bisa dipakai untuk usaha. “Kami ingin TKI tidak hanya lumayan hidupnya selama bekerja di luar negeri, tetapi juga kaya ketika sudah pulang ke kampung halamannya,” ujar Sulaeman.

Program ini menarik karena konteksnya hendak membuat TKI terlindungi di luar negeri, terjamin keamanannya, jelas kontraknya, dan ketika pulang tabungannya bisa untuk memulai usaha baru. Ia tidak lagi menjadi pekerja, tetapi pemilik perusahaan. Akan lebih menarik lagi kalau semua program, dari pelbagai lembaga yang peduli TKI, dikonstruksikan secara bersama untuk hidup yang lebih baik bagi TKI.

 

Sanda, Abun, “Kaya di Indonesia”, Kompas, No. 261/Th. Ke-48/25 Maret 2013. hal 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s