Orang Tua dan Guru yang Luar Biasa

Kemarin, tanggal 2 Juni 2013 kita (Mm dan Aysay) ikut seminar parenting yang berjudul “Orang Tua dan Guru yang Luar Biasa“. Acara itu diadakan oleh Institut Ibu Profesional, dengan pembicara Drs. Ciptono dan juga founder  Jarimatika sekaligus pendiri Ibu Profesional, ibu Septi Peni wulandani. Kalau boleh di katakan dari judulnya saja sudah menarik, bagus dan berkualitas. Kalau begitu akan saya rangkum sedikit hasil dari seminar kemarin.

Pembicara pertama adalah Drs. Ciptono, beliau adalah pendiri SLB C Dharma Bakti Putra Semarang, selain itu beliau juga mendapatkan penghargaan sebagai Guru Berdedikasi, ASHOKA Onovator for the Public Washington AS dan masih banyak lagi. Pak Cip membawa muridnya tiga orang, mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus, yang sengaja diajak untuk menginspirasi kita semua. Pak Cip lebih banyak menjelaskan bagaimana caranya menjadi seorang guru profesional. Ada 4 hal yang disampaikannya yaitu, bahwa tidak ada manusia yang di ciptakan sama satu dengan yang lainnya, tidak ada manusia yang memiliki kekurangan, bila boleh memilih, anak ingin dilahirkan berotak Habibie, berahlak ustadz Mansyur, berwajah Anjasmara, berbadan Ade Ray, dan tidak ada satu anak yang ingin di laharikan di dunia ini dengan menyandang kelainan maupun memiliki kecacatan.

Hal utama untuk menjadi seorang guru/pendidik yang luar biasa adalah dengan cara bersyukur. Perwujudan syukur itu bisa dikatakan dengan menerima secara positif sebagai profesi pendidik (Accepting), tidak dholim terhadap profesi pendidik, dan menjaga menegmbangkan profesi pendidik dengan sungguh-sungguh. Dengan artian bahwa menjadi pendidik harus benar-benar berasal dari hati, bekerja dengan hati, bukan hanya sekedar untuk mencari materi saja, tetapi lebih di tekankan terhadap bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Jika guru kuat maka pembelajaran pun akan kuat, pembelajaran kuat berarti pendidikan pun ikut kuat, dan kuatnya pendidikan berarti kuatnya sumber daya manusia bangsa.

Sebagai guru kita pun harus selalu belajar, belajar tentang hal-hal baru, dan belajar merubah pola pikir juga. Dibalik kesuksesan pasti ada kegagalan, peta sukses jalannya sama, tetapi peta gagal jalannya berbeda. Kesuksesan hanya ada satu alasan, yaitu tidak ada alasan, tetapi, kegagalan memiliki banyak alasan. Paul G. Stolz membagi seseorang menjadi tiga kelompok yang diibaratkan sebagai pendaki gunung yaitu, climber (pendaki gunung): pemanjat atau orang yang berusaha mencapai puncak gunung, camper (orang yang berkemah): berhenti di tengah jalan dengan berpuas diri karena sudah mendaki sebagian, dan yang terkahir adalah quitter (orang yang berhenti): menyerah sebelum memulai. Kebanyakan orang mengagumi kesuksesan seseorang, tetapi, jarang melihat bagaimana ia bias sukses (fq).

Ada 4 hal penting yang perlu di lakukan untuk menjadi guru yang luar biasa, pertama Work full heart bekerja dengan sepenuh hati. Bila kita bekerja dengan sepenuh hati otomatis kita akan meningkatkan performa dengan mengandalkan insting, kekuatan spiritual dan keseimbangan antara logika, emosi dan hati nurani. Menurut HR. Ibnu Asakir “Beramallah untuk duniamu seakan-akan engaku akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.” Kedua yaitu selalu perhatikan penampilan, karena kita dinilai untuk pertama kali adalah lewat penampilan. Tentu saja tidak akan meyakinkan jika, misal menjual suatu produk tetapi pakaian yang kita gunakan adalah yang sudah bolong-bolong, orang tidak akan mendengarkan apa yang kita katakan. Jadi, lebih baik menggunakan pakaian yang minimal berdasarkan syariat agama, bersih, patut/layak dan serasi warnanya, tidak perlu berlebihan. Ketiga adalah komunikasi bagus, dan terakhir memberikan pelayanan maksimal, seperti bijak dalam berbicara, santun dalam bertindak, dan baik dalam bersikap.

Ada 11 penyakit yang rentan di derita oleh guru, hal itu dikatakan oleh Kharisma salah satu anak berkebutuhan khusus, dengan nadanya yang ceria dan gayanya yang seperti Duta S07.

  1. Tipes                : Tidak punya selera.
  2. Mual                : Mutu amat lemah.
  3. Kudis                : Kurang disiplin.
  4. Asma               : Asal masuk kelas.
  5. Kusta               : Kurang strategi.
  6. TBC                  : Tidak bias computer.
  7. KRAM              : Kurang terampil.
  8. Asam Urat       : Asal sampaikan materi urutan kurang akurat.
  9. Lesu                 : Lemah sumber
  10. Ginjal               : Gajinya nihil kurang aktif dan terlambat.

Bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang paling terpenting adalah diberikan kesempatan, maka mereka akan menampilkan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang tidak di miliki oleh orang dengan fisik yang sempurna sekalipun. Pak Cip memberikan contoh ada anak Tunagrahita pemegang rekor MURI dapat menggambar menggunakan dua tangan bersamaan. Selain itu ada juga anak Cerebral Palsy pemegang rekor MURI mampu membuat tas mote dengan menggunakan kedua kakinya, dan masih banyak lagi contoh-contoh diluar sana yang tidak terkspos. Seharusnya bagi kita sebagai orang yang memiliki fisik sempurna lebih banyak bersyukur, tidak hanya melihat keatas, tetapi, lihat kebawah juga masih banyak orang seperti mereka yang perlu kita perhatikan, bahkan bisa dikatakan anak-anak berkebutuhan khusus itu telah memecut hati kita dengan talentanya yang sangat luar biasa.🙂

****

Pembicara kita yang kedua adalah seorang ibu rumah tangga profesional, beliau sudah memberikan ilmunya dari desa hingga ke kota. Melalui webnya Ibuprofesional.com beliau dapat menjangkau atau menyapa seluruh para ibu rumah tangga. Banyak penghargaan yang sudah di raih oleh ibu Septi Peni Wulandani diantaranya, Ibu teladan versi majalah UMMI 2004, Woman Entrepreneur Award ASHOKA Foundation USA 2007, dan yang terbaru adalah meraih penghargaan sebagai Kartini Next Generation dor Education 2013 dari Kemkominfo.

Untuk menjadi orang tua yang luar biasa ibu Septi memberikan beberapa tips, pertama adalah bangga menjadi orang tua. Kalau kita tidak bangga bagaimana kita bisa mendidik anak. Jadikanlah ibu rumah tangga sebagai sebuah profesi. Siap bekerja untuk anak-anak dan suami, walaupun tinggal dirumah tetapi, harus tetap berpakaian rapi, menjaga penampilan. Kedua buatlah kartu nama, dengan profesi sebagai ibu rumah tangga. Kartu itu digunakan sebagai sarana kita untuk memperkenalkan diri, bahwa kita adalah seorang ibu rumah tangga profesional! Profesional itu artinya adalah sungguh-sungguh, bekerja setulus hati. Ketiga menggantungkan daster, seolah-olah kita benar-benar bekerja dari pukul 07 pagi sampai pukul – 07 malam. Hal itu bisa dilakukan secara bertahap, misal, seperti yang dilakukan bu Septi dari pukul 07.00 – 14.00 lalu jamnya di tambah, sampai pukul 16.00 sampai akhrinya bisa mencapai pukul 19.00.

Jangan pernah memaksa anak untuk mengikuti jalan hidup kita, biarkan mereka dengan jalannya sendiri. Kemudian, didiklah anak pertama kita dengan sungguh-sungguh karena bisa dikatakan anak selanjutnya akan mengikuti anak kita yang pertama. Buatkan sebuah vision board bagi anak, agar mereka tahu apa yang di inginkan dan juga tahu kapan target itu akan di selesaikan, jadi, belajar bertanggung jawab. Selain itu ajari anak untuk memahami apa yang mereka suka, mengeksplor kelebihan yang mereka miliki untuk dijadikan kekuatannya.

Sebagai orang tua juga kita sebaiknya tidak perlu terlalu memaksakan anak untuk sekolah. Kata bu Septi “Sekolah itu pilihan, belajar itu wajib.” Kita bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Entah itu di pasar, terminal, stasiun atau di peternakan. Yang terpenting adalah jangan lihat siapa yang berbicara, tetapi, perhatikan apa yang disampaikannya. Komunikasi menjadi hal terpenting dalam mendidik anak.

Ada empat tahapan ilmu yang harus di tanam sebelum anak baligh, dapat kita lihat gambar di bawah ini :

ilmu sebelum baligh

Manfaat-Homeschooling

credit

Dalam seminar itu bu Septi lebih banyak menceritakan pengalamannya sebagai ibu profesional. Beliau mendidik ke tiga anaknya dengan cara homeschooling (HS). Mendidik anak dengan cara itu bisa dikatakan adalah solusi dari kegundahan para orang tua untuk mencari pilihan dimana baiknya anaknya sekolah, dan dari segi biaya, waktu maupun kualitas lebih baik HS. Menurut pemahaman saya, sejauh ini konsep HS lebih baik dibandingkan sekolah, karena orang tua dan anak sama-sama harus belajar. Orang tua berusaha meningkatkan kualitas diri, memberikan contoh dan tauladan yang baik, karena itu adalah kunci utama sebelum mereka menerapkannya langsung terhadap anak. Selain itu dengan konsep HS orang tua dan anak akan saling melengkapi satu sama lain, mempererat rasa kekeluargaan dan juga pada akhirnya tujuan dalam berumah tangga itu akan tercapai yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah (ketenangan, cinta suci dan kasih sayang). Semoga kami selalu diberikan kemudahan oleh Allah dalam proses belajar ini, Aamiin.

Sumber :

1. materi dari seminar

2. rumahinspirasi.com

3. ayahbundaazzam.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s